Minggu, 25 Maret 2012

Hari Kiamat

Orang Muslim menyakini dunia ini mempunyai saat terakhir di mana ia berhenti padanya. Kemudian datang kehidupan kedua, yang tidak mempunyai penghabisan, yaitu hari lain di negeri akhirat. Pada hari tersebut, Allah Ta’ala membangkitkan semua makhluk, mengumpulkan mereka semua kepada-Nya untuk dihisab orang-orang baik dibalas dengan kenikmatan abadi di surga, dan orang jahat dibalas dengan siksa yang menghinakan di neraka.
Hari Kiamat didahului dengan tanda-tandanya, seperti keluarnya Al-Masih Ad-Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Nabi Isa Alahis Salam, keluarnya hewan besar, kemunculan matahari dari barat, dan tanda-tanda lainnya. Dilanjutkan dengan peniupan sangkakala kebangkitan dan berdiri di hadapan Allah, Tuhan semesta alam. Dilanjutkan lagi dengan pembagian buku catatan amal perbuatan. Ada orang yang menerimanya dengan tangan kanan dan ada orang yang menerimanya dengan tangan kiri. Kemudian dilanjutkan dengan peletakan timbangan, dilanjutkan dengan proses penghisaban(perhitungan), dan dilanjutkan dengan pemasangan titian. Dan rentetan ini berakhir dengan menetapnya penghuni surga di surga, dan menetapnya penghuni neraka di neraka. Orang Muslim menyakini itu semua berdasarkan dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal. Dalil-Dalil Wahyu
  1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang hari akhir dalam firman-firman-Nya, misalnya dalam firman-firman-Nya berikut ini:
    • “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27).
    • “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujikalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 34-35).
    • “Orang-orang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’ Yang demikian itu mudah bagi Allah.” (At-Taghabun: 7).
    • “Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (yaitu) Hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (Al-Muthaffifin: 4-6).
    • “Dan memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan di dalamnya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (Asy-Syura: 7).
    • “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa melakukan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya pula.” (Az-Zalzalah: 1-8).
    • “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kami pun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158).
    • “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82).
    • “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir.” (Al-Anbiya’: 96-97).
    • “Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, ‘Manakah yang lebih baik? Tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun-temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf: 57-61).
    • “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (Padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar: 68-70).
    • “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka seseorang tidak dirugikan sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami datangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (Al-Anbiya’: 47).
    • “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian), tidak ada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, ‘Ambil, bacalah kitabku (ini).’ Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Di surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat (kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. ‘Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Wahai alangkah bainya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.’ (Allah berfirman), ‘Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dulu dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin’.” (Al-Haaqqah: 13-34).
    • “Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bengkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 68-72).
  2. Penjelasan Rasulullah saw. dalam sabda-sabdanya, misalnya sabda-sabdanya berikut ini:
    • “Kiamat tidak akan terjadi hingga seseorang berjalan melewati kuburan orang lain, kemudian ia berkata, ‘Ah, seandainya aku berada di tempatnya’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
    • “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga terjadi sepuluh hal: gerhana di timur, gerhana di barat, gerhana di Jazirah Arab, Dajjal, asap dan hewan besar, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, api keluar dari dalam Aden yang mengusir manusia, dan turunnya Nabi Isa.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Dajjal muncul di umatku kemudian hidup selama empat puluh (hari, bulan, atau tahun), kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam yang mirip dengan Urwah bin Mas’ud yang kemudian mencarinya dan membunuhnya. Setelah itu, manusia hidup selama tujuh tahun tanpa ada permusuhan di antara dua orang. Kemudian, Allah mengirimkan angin dingin dari arah Syam. Maka, tidak tersisa di atas permukaan bumi orang yang di dalam hatinya terdapat kebaikan atau keimanan sebesar biji atom, melainkan direnggut oleh angin tersebut. Bahkan kalau seandainya salah satu di antara kalian masuk ke tengah gunung, maka angin dingin masuk kepadanya dan merenggutnya. Yang tersisa ialah orang-orang jahat dalam kebodohan seperti burung, dan dalam mimpi-mimpi binatang buas. Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak memungkiri kemungkaran. Kemudian syaitan muncul kepada mereka dan berkata kepada mereka, ’Kenapa kalian tidak merespon ajakanku?’ Mereka berkata, ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Syaitan menyuruh mereka menyembah berhala. Dalam kondisi seperti itu, rizki mereka banyak dan kehidupan mereka enak. Kemudian, sangkakala ditiup. Maka, tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan ia memiringkan sisi lehernya (agar bisa mendengar), dan mengangkatnya. Orang yang pertama kali mendengar tiupan sangkakala ialah orang yang sedang melepa kolam untanya. Orang tersebut pun pingsan, begitu juga semua manusia. Kemudian, Allah menurunkan hujan seperti tetesan embun. Kemudian, dari air hujan tersebut tumbuhlah badan manusia. Sangkakala ditiup lagi pada manusia, tiba-tiba mereka berdiri saling memandang yang lain. Dikatakan kepada mereka, ’Hai manusia, mari pergi kepada Tuhan kalian. (Tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya) (Ash-Shaffat: 24).’ Kemudian dikatakan, ’Keluarkan penghuni neraka.’ Ditanyakan, ’Sejak kapan?’ Dikatakan, ’Dari setiap tahun sejumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan’. Itulah hari di mana (anak kecil menjadi tua) dan (hari tersingkapnya betis).” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada orang-orang jahat.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Jarak antara dua tiupan sangkakala adalah empat puluh (hari, atau bulan, atau tahun), kemudian Allah menurunkan hujan dari langit kemudian manusia tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Tidak ada anggota badan manusia melainkan diuji, kecuali satu tulang, yaitu tulang di bawah. Dari tulang tersebut, manusia disusun pembentukannya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Muslim).
    • Sabda Rasulullah saw. ketika berkhutbah, “Hai manusia, sesungguhnya kelak kalian dikumpulkan kepada Tuhan kalian dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan tidak khitan. Ketahuilah, bahwa orang yang pertama kali dikenakan pakaian ialah Ibrahim a.s. Ketahuilah bahwa Nabi Ibrahim didatangkan dengan beberapa orang dari umatku, kemudian mereka dibawa ke sebelah kiri. Aku berkata, Wahai Tuhanku, mereka sahabat-sahabatku?’ Allah berfirman, Engkau tidak tahu apa yang mereka kerjakan sepeninggalmu’.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Kedua kaki seorang hamba tidak bisa bergerak hingga ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya di dalam hal apa saja ia gunakan, tentang ilmunya apa saja yang telah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan ia infakkan untuk apa saja, dan tentang badannya di dalam apa saja ia habiskan.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi. At-Tarmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih dan juga disebutkan Muslim di Shahih-nya).
    • “Telagaku (luasnya) adalah perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari pada susu, aromanya lebih wangi daripada kesturi, dan tekonya seperti bintang-bintang di langit. Barang siapa minum airnya, ia tidak akan haus selama-lamanya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
    • Sabda Rasulullah saw. kepada Aisyah Radhiyallahu Anha ketika ia ingat neraka kemudian menangis, “Kenapa engkau menangis?” Aisyah menjawab, “Aku ingat neraka kemudian menanngis. Apakah engkau ingat keluargamu pada hari kiamat?” Sabda Rasulullah saw., “Ada tiga tempat di mana seseorang tidak ingat pada orang lain: Di saat berada di timbangan, hingga ia tahu apakah timbangannya ringan atau berat? Di saat buku-buku catatan berterbangan, hingga ia tahu di mana buku catatannya jatuh, di tangan kanannya ataukah di tangan kirinya, ataukah di belakang punggungnya? Dan di titian ketika dipasangkan di antara tepi Jahannam hingga ia berhasil menyeberanginya.” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad hasan).
    • “Setiap nabi mempunyai doa dan ia telah berdoa dengannya untuk umatnya. Sedang aku merahasiakan doaku sebagai syafaat untuk umatku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Malik, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim yang men-shahih-kannya).
    • “Aku penghulu anak keturunan Adam dan tidak ada kesombonngan dalam hal ini. Aku orang yang pertama kali tanahnya terbelah pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan dalam hal ini. Aku pemberi syafaat pertama kali dan orang yang pertama kali syafaatnya diterima dan tidak ada kesombongan dalam hal ini. Panji pujian ada di tanganku pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan dalam hal ini.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Barang siapa meminta surga kepada Allah hingga tiga kali, maka surga berkata, ‘Ya Allah, masukkan orang tersebut ke surga.’ Barang siapa berlindung diri dari neraka hingga tiga kali, maka neraka berkata, ‘Ya Allah, lindungilah orang tersebut dari neraka’.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi, Ibnu Majah, An-Nasai, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
  3. Keimanan jutaan para nabi, rasul, ulama, dan orang-orang shalih kepada hari akhir dan apa saja yang terjadi di dalamnya.
Dalil-Dalil Akal
  1. Kebaikan kekuasaan Allah Ta’ala untuk mengembalikan manusia setelah kematian mereka. Sebab, pengembalian mereka itu tidak lebih sulit dari penciptaan mereka tanpa contoh sebelumnya.
  2. Tidak ada sesuatu yang bertentangan dengan akal pada hari kebangkitan dan hari pembalasan. Sebab, akal hanya memungkiri dan memustahilkan pertemuan dua hal yang saling berlawanan dan dua hal yang saling kontradiksi. Hari kebangkitan dan hari pembalasan sedikit pun tidak masuk dalam pembahasan tersebut.
  3. Hikmah Allah Ta’ala yang terlihat dalam semua tindakan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya dan hikmah-Nya yang menjelaskan segala sesuatu itu mustahil menurut akal tidak menghendaki adanya hari kebangkitan bagi makhluk setelah kematian mereka, dan tidak berakhirnya kehidupan dunia, serta tidak adanya balasan atas perbuatan buruk mereka.
  4. Keberadaan dunia dengan kenikmatan, dan penderitaan yang ada di dalamnya menjadi bukti adanya kehidupan lain di alam lain di mana di dalamnya terdapat keadilan, kebaikan, kesempurnaan, kebahagiaan, dan penderitaan yang jauh lebih banyak daripada di dunia. Kehidupan di dunia dengan kebahagiaan dan penderitaan di dalamnya tidak lebih dari sehelai daun kecil jika dibandingkan istana megah, atau taman asri di akhirat.
Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 46-56.

1 komentar:

Kritik dan saran amat kami harapkan. Terima kasih

Apa komentar Anda?

Pengikut